Mengajar di Kepingan Surga



Samosir, sebuah pulau kecil yang dikelilingi danau Toba. Negeri indah yang sering kali disebut negeri kepingan surga. Sebuah pulau yang selama ini saya pikir hanya sebesar pulau-pulau kecil di rangkaian kepulauan seribu. Tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk mengunjungi pulau samosir; apalagi untuk waktu yang cukup lama.

Perjalanan kami ditempuh selama 2 jam saja dari bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menuju bandara silangit. Di silangit, kami sudah dinanti oleh Pak Erwin S, perwakilan kantor pusat The British Institute (TBI) tempat dimana kami mengajar, beserta Pak B Simbolon, perwakilan dari PT Parna Raya dan Yayasan Marianna. Sedikit tentang PT Parna Raya dan Yayasan Marianna, kedua lembaga ini yang mewakili Group Perusahaan Parna Raya yang dipimpin oleh Bapak Charles Simbolon yang membuat proyek pendidikan bahasa Inggris di pulau samosir terlaksana. Ya, kami adalah 5 orang guru bahasa Inggris yang ditugaskan untuk memberi pelatihan Bahasa Inggris kepada penduduk di pulau samosir. PT Parna raya dan Yayasan Marianna bekerja sama  dengan TBI untuk mengembangkan kemampuan berbahasa inggris para penduduk pulau samosir yang telah ditetapkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo sebagai salah satu destinasi wisata Internasional.

Perjalanan menuju penginapan kami dipulau samosir ditempuh selama kurang lebih 3 jam melalui jalan darat. Namun perjalanan ini terasa sangat singkat karena kami semua terbuai oleh keindahan pemandangan sepanjang perjalanan. Mata kami yang terbiasa dengan kepadatan bangunan gedung-gedung dan kemacetan di kota asal kami, Bandung dan Jakarta, dimanjakan oleh keindahan padang rumput, pepohonan dan juga birunya danau Toba. Beberapa kali kami meminta pengemudi mobil yang kami kendarai untuk berhenti sejenak sepanjang area Tele hanya untuk menghirup udara segar dan mengambil beberapa foto.
Kami berlima, pada saat itu, diminta untuk mengajarkan bahasa Inggris pada 200 orang guru SD dan SMP negeri di pulau Samosir. Lokasi mengajar saat itu adalah SMP Negeri 3 Pangururan. Sekitar 500m dari tempat dimana kami menginap. Pelatihan ini bukan hal yang mudah untuk kami jalani. Berbagai “perlawanan” kami terima karena kegiatan ini kami laksanakan ketika para guru peserta pelatihan  seharusnya dapat menikmati masa libur sekolah. Masa dimana mereka dapat meluangkan waktu lebih lama dengan keluarga dan orang-orang tersayang. Setelah melalui proses saling menyesuaikan, kami dan para peserta mulai mengerti mengapa proyek ini harus dilaksanakan.

Beberapa peserta, secara  tidak langsung, memilih utuk mengundurkan diri dari kegiatan pelatihan. MunTaBer (Mundur Tanpa Berita) saya menyebutnya. Tapi peserta lain memilih untuk tetap menjadi bagian dari pelatihan karena berbagai alasan. Utamanya adalah karena mereka merasa pelatihan ini adalah kesempatan yang mungkin tidak akan terulang lagi. Pelatihan bahasa Inggris eksklusif dari TBI dan disponsori oleh PT Parna Raya dan Yayasan Marianna sebagai bagian dari proyek CSR-nya sehingga para peserta tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun untuk menjadi bagian dari pelatihan ini. Sangat mengejutkan ketika kami mengetahui ada banyak peserta yang menempuh perjalanan puluhan kilometer dari tempat tinggalnya untuk mencapai SMPN 3 tempat kami mengadakan pelatihan.
Selama 2 minggu kami memberi pelatihan dalam metoda yang mungkin dirasa berbeda oleh para peserta. 70% porsi dari pelatihan adalah “memaksa” para peserta untuk berkomunikasi verbal dalam bahasa Inggris melalui permainan dan simulasi dialog. Kami melihat bagaimana para peserta setiap hari semakin percaya diri dalam berbahasa Inggris dan semakin yakin bahwa anggapan bahasa inggris sebagai bahasa yang sulit adalah anggapan yang salah.

Diakhir masa pelatihan, kami kembali dikunjungi oleh pimpinan TBI Pak Windiana R beserta Pak Erwin S dan juga perwakilan  PT Parna raya dan Yayasan Marianna, Pak B Simbolon dan Pak Nahot Napitupulu yang mewakili Bapak Charles Simbolon sebagai pimpinan Group Perusahaan Parna Raya. Kunjugan tersebut bagi saya pribadi, sejujurnya, lebih terasa seperti inspeksi mendadak yang cukup menegangkan. Ada kekhawatiran bahwa pencapaian kemampuan para peserta tidak sesuai yang diharapkan. Apalagi ketika keempatnya berkeliling ke ruang-ruang kelas, merekam kegiatan dan menanyai beberapa peserta pelatihan dalam bahasa Inggris. Cukup mengejutkan bagi kami bahwa tidak satupun peserta merasa gugup, bahkan mereka berebut menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para pimpinan kami dalam bahasa Inggris.

Keesokan harinya, setelah acara penutupan kegiatan, kami kembali diminta untuk melanjutkan proyek pendidikan di Samosir ini dalam skala yang lebih besar. Memberi pelatihan kepada 200 siswa SMP, pekerja dan pelaku pariwisata dan juga pegawai-pegawai dinas pemerintahan di pulau samosir selama 7 minggu. Sebuah kebanggaan juga bagi kami para guru ketika menyadari bahwa peserta dapat mempelajari sesuatu dari ilmu yang kami bagikan dan bahwa kami pun diminta untuk kembali lagi ke negeri kepingan surga untuk mengajar.
Banyak hal dan pengalaman yang kami rindukan dari pulau ini. Lezatnya ikan ditambah sambal andaliman, golden sunset yang dapat kami nikmati setiap hari, sejuknya air danau toba, hangatnya pemandian di aek rangat bahkan kelucuan-kelucuan yang kami alami sebagai pendatang seperti bagaimana kami terpingkal-pingkal ketika tahu salah satu dari kami lari tunggang langgang di kejar babi atau kelucuan ketika kami berlima pergi menuju pemandian aek rangat dengan menumpang mobil bak dalam keadaan hujan dan satu ban kempes.
Suatu saat saya akan kembali ke Samosir, negeri indah kepingan surga.

Arri, The British Institute – Dago, Bandung
arrifyansyah@tbi.co.id